Selain memutuskan mengikuti pertandingan perdana Indonesia Super League melawan Persija Jakarta, ada langkah lain untuk eksistensi Arema Cronus sebagai klub bola di Indonesia. Salah satunya adalah merangkul tokoh-tokoh lama yang ada di yayasan Arema.
Diterangkan oleh Iwan Budianto, dirinya selama empat hari terakhir berusaha menemui tokoh-tokoh yang dianggap berperan besar dan terlibat dalam proses peralihan kepemilikan Arema. Dari tangan Bentoel yang membeli dari Alm Lucky yang kemudian beralih ke konsorsium di tahun 2009.
"Berkaitan dengan apa yang disebut BOPI sebagai perselisihan, beberapa hari terakhir ini. Kami sama-sama melepaskan ego masing-masing, menaruh gengsi, perselisihan, harga diri, martabat dan sebagainya. Saya mewakili manajemen sudah sowan kepada tokoh-tokoh yang dianggap punya andil besar terhadap sejarah peralihan dari era Bentoel ke era Konsorsium. Ada empat tokoh yang kami temui, dan keempatnya punya komitmen bersama untuk membenarkan dan mencari solusi terbaik soal legalitas Arema yang paling benar," urai Iwan Budianto.
"Yang pertama saya sowan kepada bapak Andi Darussalam Tabussala yang saat itu menjabat sebagai presiden direktur PT Liga, beliau juga kemudian mengajak H M Nur ke struktur Arema, dia juga tahu betul kenapa ada 14 saham di Arema yang 13 dimiliki Yayasan dan 1 diberikan kepada Alm Lucky Acub Zainal sebagai penghormatan. Yang kedua saya bertemu dengan Darjoto Setiawan, dia adalah pembina yayasan Arema,"
"Kemudian yang ketiga bertemu dengan Satria Budi Wibawa yang saat saat itu menjabat sekretaris yayasan, kemudian saya juga bertemu dengan Bapak Gunadi Handoko yang menjabat direktur Utama PT Arema Indonesia. Semua sudah siap termasuk Pak Nur yang semua bertekad memperbaiki legalitas demi menyelamatkan eksistensi Arema,"
Manajemen Arema sendiri menyatakan langkah yang dilakukan ini adalah sebagai bentuk untuk tetap mempertahankan Arema sebagai kebanggaan Malang dan mempertahankan eksistensinya.
Arema sekali lagi menegaskan untuk tetap bertanding di kompetisi QNB League (nama baru untuk Indonesia Super League 2015), meski dalam bayang-bayang tak direstui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Sikap itu diambil semata-mata demi menjaga eksistensi klub tersebut.
"Saya tegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk perlawanan. Yang kami lakukan ini hanyalah cara kami untuk mempertahankan eksitensi kami sebagai sebuah organisasi, dan mempertahankan hak Arema sebagai sebuah klub sepakbola," ungkap CEO Arema, Iwan Budianto dalam konferensi pers di kantor klub, Jumat (3/4) sore.
Pria yang akrab disapa IB itu menambahkan bahwa sepakbola di manapun memiliki aturan baku dalam soal kompetisi. Klub terbaik dalam sebuah kasta akan promosi ke level lebih tinggi, sementara yang berada di peringkat bawah akan terdegradasi ke level di bawahnya.
"Begitu pula dengan kami, jika ada pihak lain yang memperkarakan soal legalitas atau apa pun sebaiknya diselesaikan di pengadilan, namun kami tidak bisa memprediksi kapan masalah tersebut berakhir nantinya. Kalau dalam waktu dekat tidak terselesaikan, maka bisa saja Arema terdegradasi ke Divisi Utama, bahkan harus memulai dari level terbawah," imbunya.
"Maka sekali lagi saya ulangi, wahai Pak Menteri (Menpora) yang terhormat, apa yang kami lakukan ini bukanlah bentuk perlawanan kepada pemerintah, melainkan untuk mempertahankan eksistensi dan hak kami sebagai sebuah klub," pungkas mantan Ketua Badan Liga Amatir Indonesia ini.

Baca : Penampilan Model Paling Cantik dan Seksi Jersey AREMA CRONUS


0 komentar: